Rabu, 27 Desember 2017

PIAGAM GUMI SASAK MENEGAKKAN PERADABAN DAN JATI DIRI SASAK



PIAGAM GUMI SASAK

  MENEGAKKAN PERADABAN DAN JATI DIRI SASAK 


 


“Menjadi bangsa sasak merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT dan generasi mendatang. Menunaikan amanah sasak sejatinya merupakan matarantai sejarah kemanusiaan, melalui simbol-simbol yang diletakkan dalam pemikiran bangsa sasak tyang terhampar di Gumi Paer. Simbol-simbol itu merupakan tanda-tanda yang terbaca yang membawa kembali jati dirinya yang sebenarnya.”
           Piagam gumi sasak merupakan sebuah dokumen yang berisi kesepakatan bersama membangun, menyatukan, dan menegakkan kembali kebudayaan sasak berdasarkan basis atau landasan yang sebenarnya. Lahirnya  Piagam Gumi Sasak ini dengan  diadakannya sebuah diskusi panjang dari beberapa intelektual sasak yang memiliki perspektif budaya depan. Kemudian  dalam diskusi panjang ini terjadi berbagai bentuk kajian, peristiwa inilah yang menjadi tonggak awal lahirnya piagam gumi sasak setelah melalui kajian perjalanan yang panjang kira-kira pada bulan Agustus tahun 2015 bertepatan dengan acara launcing buku yang berjudul “membaca arsitektur sasak”. Buku tersebut merupakan sebuah karya dari bapak Drs. H. L. Agus Faturrahman.
            Istilahnya Piagam Gumi Sasak ini merupakan perahu besar. Perahu yang dibuat bukan dengan tukang melainkan dengan petunjuk ilahi. Dalam hal ini bercermin pada Surah Al-Mukminun, sebagaimana ketika Nabi Nuh diperintahkan membuat perahu oleh Allah dengan pengawasan Allah. Jadi arsiteknya disini adalah Allah. Dimana sekarang ini kita berada dalam bah peradaban, banjir besar peradaban yang melanda kita dan menghanyutkan kita. Jika kita tidak memiliki perahu, maka kita akan tenggelam. Nah, sekarang kita membangun sebuah perahu, jika yang tidak mau ikut dengan perahu ini maka akan tenggelam oleh peradaban. 
Hal inilah yang  kemudian menjadi awal kesadaran para tokoh budaya bahwa sasak memiliki khazanah ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi sejak zaman dahulu. Sebelumnya para tokoh budaya sudah bisa menghasilkan sebuah monumen peradaban yaitu kajian astronomi tradisi yang melahirkan sistem penanggalan sasak yang dikenal dengan sebutan kalender Rowot Sasak. Tokoh budaya belum bisa menemukan titik nol dari kalender rowot sasak sehingga belum bisa menentukan sekarang ini tahun berapa dan pada saat ini masih dalam tahap kajian, tetapi dimana kita sudah bisa menemukan satu tahapan peradaban yang sudah sangat panjang yaitu dalam penelitian arsitektur, usia arsitektur lumbung itu , usia tekhnologinya 3500tahun SM. Hal ini menunjukan bahwa peradaban sasak  sudah sangat tua, kesadaran inilah kemudian sejak bulan Agustus itu para tokoh budaya terus berdiskusi. Bapak Drs. H. L. Agus Faturrahman sendiri yang membuat atau merancang konsep awal piagam gumi sasak ini dengan nama Manifesto Kebudayaan dan ini dipersiapkan pula untuk launching awal tanggal 26 Desember 2015, jadi sejak bulan Agustus sampai awal bulan Desember melanjutkan diskusi sampai naskah manifesto kebudayaan sasak tersebut selesai.
 Terdapat beberapa tokoh yang ikut serta dalam diskusi panjang tersebut antaranya:
1. Drs. H. L. Agus Faturrahman, 
2. Dr. Muhammad Fajri, M.A, 
3. Dr. H. Sudirman, M.Pd. 
4. Murahim S.Pd.,M.Pd,
5. Muh Syahrul Qodri, S.Pd,.M.A.
  Inilah yang menjadi penggodok awal dari manifesto kebudayaan ini, kemudian bapak Dr. Muhammad Fajri, M.A mengusulkan nama dengan Piagam Gumi Sasak dengan isi yang tidak jauh berbeda dari konsep awal. Pemberian nama manifesto kebudayaan oleh Drs. H. L. Agus Faturrahman merujuk kepada manikebu (manifesto kebudayaan) tahun 1965, ada sebuah pernyataan kebudayaan dari para seniman budayawan di Indonesia pada waktu itu kaitannya dengan kondisi kebudayaan di Indonesia yang diwarnai oleh letra kebudayaan rakyat milik kaum komunis. Tetapi Dr. Muhammad Fajri, M.A mengusulkan piagam gumi sasak dengan latar belakang Piagam Madinah yang pada waktu itu lahir untuk menyatukan kaum Muslim dengan Nasrani ataupun Yahudi yang ada di kota Madinah. Pada dasarnya kedua nama ini memiliki nilai yang sama, hanya saja Dr. Muhammad Fajri lebih pada rekonsiliasi dari semua agama dan bangsa yang ada di Madinah
Pada tanggal 26 Desember 2015, piagam gumi sasak  dibacakan untuk pertama kalinya oleh Dr. Muhammad Fajri dihadapan majelis adat sasak dalam acara peluncuran Kalender Rowot Sasak tahun 2015 sebagai tonggak kebangkitan sasak dan peluncuran kalender yang pertama pada tahun 2014. Sehingga tradisi berikutnya adalah peluncuran kalender rowot sasak selalu dilakukan pada tanggal 26 Desember, acara pokok sebenarnya adalah forum ilmiah sejarah sasak dengan tema Menjawab Histografi Luar Tentang Sasak jadi apa kata orang di luar sasak tentang sejarah sasak yang selama ini kita baca.
Adapun para tokoh yang menandatangani piagam gumi sasak antaranya:
1. Drs.H.L. Agus Faturrahman
2. Drs.H. Lalu Azhar
3. Drs. Lalu Bayu Windia, M.Si.
4. Drs. H. Husni Mu'adz, MA.,Ph,D.
5. Dr. H. Jamaluddin, M.Ag.
6. Drs. H. A. Muhif Ellepaki, M.Sc.
7. Drs. H. Lalu Mudjitahid
8. TGH. Ahyar Abduh
9. Dr. Muhammad Fadjri, M.A.
10. Dr. Lalu Abd. Khalik, M.Hum.
12. Dr. H. Sudirman, M. Pd.
13. L. Ari Irawan, SE.,S.Pd,.M.Pd.
Piagam gumi sasak ini tidak dibacakan setiap tahunnya, akan tetapi setiap saat, setiap kesempatan, dan setiap ada pertemuan orang-orang sasak. Akan tetapi tanggal 26 Desember ditetapkan sebagai hari peluncuran kalender rowot Sasak dan dihajatkan untuk mengenang kebangkitan sasak.
     Sehingga disini terdapat Realisasi atau implementasi dari Piagam Gumi Sasak ini adalah terdapat sebuah gerakan dalam membangun desa-desa madani. Adapula beberapa tempat yang sudah dirintis sebagai desa madani, seperti Kute dan Sesait, kemudian gagasan desa madani diambil oleh pemerintah daerah NTB yang merupakan wujud dari piagam gumi sasak sendiri. Kemudian orang-orang mulai menyadari bahwa mereka memiliki keberadaban yang tinggi, sehingga kerinduan tentang jati dirinya semakin banyak orang yang mencari. Inilah yang menjadi orientasi kita kedepan, bagaimana sasak ini tidak dipecah belah oleh kepentingan apapun.


  
Sumber dan Dokumentasi: 
Drs. H. L. Agus Faturrahman
 (Ketua Taman Budaya Nusa Tenggara Barat)

   
                                                                    

Sabtu, 23 Desember 2017

Alat Musik Tradisional Kebanggan Masyarakat Gumi Sasak



Alat Musik Tradisional Kebanggan Masyarakat Gumi  Sasak




Gendang Beleq (Geger Girang), Dusun Lembuak Barat, Desa Lembuak, Kec Narmada, Kab Lobar, NTB.

Gendang Beleq
Pulau Lombok tepatnya Suku Sasak memiliki beragam kesenian dan kebudayaan, berbagai macam kebudayaan dapat ditemukan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Salah satunya yaitu Gendang Beleq. Gendang beleq merupakan salah satu kesenian tradisional atau alat musik tradisional kebanggan masyarakat gumi sasak yang dimainkan dengan cara ditabuh dan dimainkan secara berkelompok. Konon katanya pada zaman dahulu gendang beleq merupakan salah satu  musik pengiring dan musik penyemangat prajurit sasak yang pergi berperang, namun seiring berjalannya waktu gendang beleq dijadikan sebagai musik pengiring dan digunakan sebagai hiburan yang dipertunjukkan pada acara kebudayaan, kesenian atau perayaan pernikahan adat yang lebih tepatnya pada acara nyongkolan. Asal kata gendang beleq yang terdiri dari dua kata yang dimana kata tersebut merupakan penggabungan antara bahasa indonesia dengan bahasa sasak, kata “Beleq” dari bahasa sasak yang berarti besar sedangkan kata “Gendang” berasal dari bunyi gendang itu sendiri, yaitu dang atau dung.
Gendang beleq biasanya dimainkan secara bersamaan dan dipadukan dengan alat musik lainnya, dalam tetabuhan gendang beleq biasanya gendang yang digunakan terdiri dari dua gendang beleq saja, namun seiring perkembangan zaman jumlah gendang beleq yang digunakan meningkat menjadi enam buah, dimana gendang beleq yang berukuran besar yang dimainkan dengan cara dipukul dan dibawa dengan cara digantung di pundak, dan alat musik lainnya seperti satu buah  perembak dimana perembak adalah cemprang besar yang dipegang dan dimainkan oleh satu orang yang berada ditengah-tengah, terdapat juga cemprang biasa atau cemprang kecil terdiri dari 14 pasang, maka jumlah cemprang yang digunakan menjadi 15 pasang, reong (kelentang)   namun reong yang digunakan dalam gendang beleq terdiri dari empat biji dua balean, terdapat satu “oncer” dimana oncer ini berbentuk gong bulat kecil yang dimainkan dengan cara dipukul menggunakan pemantok, terdapat juga dua “gong” dimana gong ini berbentuk bulat besar yang dibawa berdua (lembah) dimainkan dengan cara dipukul menggunakan pemantok lalu menghasilkan suara pong dan jir, “suling” (seruling) terdiri dari satu yang dimainkan dengan cara ditiup sesuai irama musik gendang beleq, rincik yang terdiri dari enam buah, dan satu buah petuk penyelak. Diantara sekian banyak alat musik ini dipadukan dan dimainkan sehingga menghasilkan suara tetabuhan yang indah dan merdu.
Gendang beleq ini dimainkan sambil menari sesuai dengan irama dan gerakan yang telah ditentukan oleh anggotanya dimana anggota gendang beleq terdiri dari 15-20 orang. Para pemain gendang beleq biasanya disebut dengan “sekahe”, sekahe gendang beleq biasanya menggunakan “tampet” baju adat tradisional sasak Lombok, tidak lupa juga menggunakan “sapuq” yang berupa ikat kepala khas sasak Lombok, dan yang terahkir menggunakan “kereng” berupa kain songket khas sasak Lombok.  Gendang beleq memiliki filosofis dan juga disakralkan oleh masyarakat suku sasak, dimana masyarakat suku sasak menilai gendang beleq memiliki nilai keindahan, kebijakan, dan ketelitian.

Lembuak, 22 Desember 2017

Kamis, 21 Desember 2017

Tradisi Nutong Dupe Adat Sasak



Nutong Dupe
Masyarakat sasak merupakan masyarakat yang sangat patuh terhadap tradisi dan kebudayaan dan masyarakat sasak sangat melestarikan tradisi, seperti halnya tradisi nutong dupe. Nutong Dupe adalah salah satu ritual kebudayaan yang sering dilakukan oleh masyarakat sasak di desa saya, desa Lembuak, kec Narmada, Kab Lombok Barat, NTB. Hal semacam ini dilakukan pada malam tertentu yang diinginkan oleh masyarakat pada saat mengadakan syukuran, namun ada malam yang diwajibkan untuk acara nutong dupe seperti malam lebaran idul fitri, lebaran topat, lebaran haji, roah bulan, mersin, maleman, maulid, isra’ mi’raj dll. Acara ini dilakukan oleh laki-laki saja dimana para lelaki menggunakan perlengkapan peci dan kain lalu membaca doa seperti layaknya seorang yang sedang melakukan zikir.
Acara nutong dupe ini tidak lupa dilengkapi dengan sebuah dulang, dimana dulang ini berisikan makanan yang bermacam-macam, namun pada saat nutong dupe pada lebaran topat diwajibkan menyediakan topat dan tikel didalam dulang tersebut. Hal yang paling penting yang harus disediakan pada acara nutong dupe adalah pendupean dimana pendupean ini terbuat dari tanah liat (Tanaq Malit) yang berbentuk seperti piring dan memiliki satu kaki, pendupean ini berisikan serabut kelapa atau dalam bahasa sasaknya adalah kambut, dimana kambut tersebut disiram minyak tanah lalu dibakar, pada saat kambut yang menyala diatas pendupean di masukkan sedikit kemenyan, jika tidak ada kemenyan dapat digantikan dengan memasukkan sedikit gula merah (Gule Beaq).
Namun kontroversi yang sering terjadi pada saat acara nutong dupe adalah pada saat memasukan kemenyan kedalam sebuah pendupean yang berisi kambut berapi, seorang masyarakat yang tidak mengetahui dengan jelas fungsi kemenyan tersebut pasti akan berfikiran bahwa kita orang islam adalah orang yang sirik, karena mereka mengetahui bahwa kemenyan untuk orang hindu sembahyang, padahal kemenyan tersebut tidak hanya untuk orang diluar agama islam saja, melainkan kemenyan juga digunakan oleh orang islam pada saat acara nutong dupe, dan kemenyan yang digunakan berbeda dengan kemenyan yang digunakan oleh orang hindu, masyarakat juga sering berfikiran bahwa fungsi kemenyan adalah sebagai pemanggil makhluk halus. Menurut kepercayaan orang sasak bahwa fungsi kemenyan tersebut adalah sebagai perantara memanggil sanak saudara yang telah meninggal atau untuk menghormati sanak saudara yang telah meninggal dunia, yang dimana dalam bahasa sasaknya yang disebut dengan ye langan te kueh dengan sak wah mate telang.
Dalam meluruskan hal semacam ini memang tidak mudah didalam kalangan masyarakat luas, apalagi sampai dikatakan sirik karena menggunakan kemenyan, menurut saya cara meluruskan hal semacam ini dapat dilakukan dengan cara pembeleq-pembeleq dese memberikan santunan atau ceramah kepada masyarakat pada saat acara-acara tertentu seperti acara naekan dulang pada saat lebaran idul fitri,santunan yang diberikan yang bersangkut paut dengan acara nutong dupe dan fungsi kemenyan dengan jelas. Cara melurusakan yang selanjutnya yaitu dengan cara memberitahukan kepada masyarakat bahwa nutong dupe menggunakan kemenyan atau gule beaq merupakan ritual kebudayaan nenek moyang yang diwariskan secara turun temurun yang tidak dapat diganggu gugat kebenaran dan kegunaannya, sehingga harus dipatuhi dan dilaksanakan sepenuh hati.

PIAGAM GUMI SASAK MENEGAKKAN PERADABAN DAN JATI DIRI SASAK

PIAGAM GUMI SASAK   MENEGAKKAN PERADABAN DAN JATI DIRI SASAK    “Menjadi bangsa sasak merupakan amanah yang harus dipert...